Untuk ‘dia’ atau ‘Dia’

Pun nantinya kita-kita ini akan berjalan sendiri-sendiri sebagai individu yang mempertanggung jawabkan setiap langkah dan keputusan kita saat di hari perhitungan. Toh kenyataannya dalam kehidupan kita, Allaah menciptakan manusia lainnya. Dalam setiap hubungan kemanusiaan yang berbeda-beda sehingga kita akan merasakan siapa diantara manusia-manusia di dekat kita yang berpengaruh secara baik atau buruk.

Bisa saja kita melakukan sesuatu atas dasar ketaatan kepada seseorang. Patuh dikarenakan seseorang yang lebih senior atau lebih tinggi jabatannya. Bahkan kepada siapapun orang-orang hebat yang diutus Allaah untuk memberikan perubahan dalam diri kita.

Mereka ini sengaja Allaah datangkan sebagai tanda sayang-Nya Allaah pada kita. Bisa didatangkan di masa yang biasa2 saja, saat kita memang membutuhkan seseorang yang bisa mendukung atau berbagi banyak hal demi perbaikan-perbaikan dalam diri kita. Orang tua kita tentu juga ada di dalamnya.

Bersama mereka kita bisa mencapai tujuan-tujuan kehidupan. Bahkan membangkitkan kita dari keterpurukan yang dalam. Pun kita tak pernah berjumpa dengan orang yang berhasil menberikan pengaruh besar dalam kehidupan kita. Maka dengan mudah rasa kagum kita yang kemudian menginspirasi lahirnya kebaikan-kebaikan dalam diri kita, menjadikan kecintaan kita pada mereka tak terbendung. Karena dalam beberapa keberhasilan kita, adalah akibat dari sebab2 yang mereka lakukan.

Setelah hidup kita itu. Kebersamaan kita dengan setiap orang yang membuat kita bisa berubah dan inspirasi yang ada padanya tentu ada masanya untuk dipisahkan. Kematian adalah satu diantara pemutusnya. Cinta, kekaguman dan ikatan emosi yang kuat dengannya menimbulkan sakit yang lebih dari sakit2 yang lain. Bisa saja begitu. Karena, pun tak terlihat, begitulah rasa kasih sayang dan cinta. Bahagianya selalu nyata dirasa. Demikian pula deritanya.

Tapi, pemisahan ini sama sekali bukan karena Allaah tak menyukai munculnya kebaikan2 dalam dirimu. Seperti yang pernah aku katakan dulu.. Allaah membuatmu jadi sendiri demi menjauhkan orang2 dari sekitarmu.. sehingga hanya ada dirimu dan Rabbmu saja.

Tapi, mungkin Allaah punya banyak pesan lain lewat perpisahan. Tapi, pesan paling pentingnya adalah Allaah ingin menguji.. untuk siapa kebaikan2 itu kau lakukan. Kepada siapa perubahan-perubahan itu kau persembahkan?? Apakah untuk ‘dia’ atau ‘DIA’??? Untuk orang yang berpengaruh dalam kehidupanmu itu atau untuk Penciptamu Yang mengutusnya dan membalikkan hatimu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *