Menjadi Warganet Baik Yang Memenuhi “Timeline” Dengan 4 Pilar Kebangsaan

Negara dan Warganet

Bicara MPR berarti kita bicara tentang Lembaga Negara ya, guys. Di dalamnya ada manusia-manusia yang memang sudah menjadi tugasnya mikirin negara. Bisa dibayangkan kalau sebuah negara yang banyak penduduknya tapi gak ada yang berfungsi untuk menjadi lembaga yang mengelola potensi-potensinya dengan baik.

Satu diantara potensi yang dimiliki oleh Indonesia adalah warganet yang sangat aktif di sosial media. Hal ini menjadikan jutaan konten diunggah dan menjadi bacaan yang siap diolah oleh pikiran kita dan menjadi pilihan juga bagi setiap pembacanya untuk menerima atau menolak konten bersangkutan.

Sosialisasi 4 Pilar

Di sebuah pagi, Sabtu tanggal 07 Desember 2019, MPR bekerja sama dengan Blogger Balikpapan mengadakan event “Warganet Balikpapan Ngobrol Bareng MPR RI” di Jade Room, Quartz Office Tower Aston, Balikpapan. Bersyukur saya dan teman-teman blogger, influencer, dan beberapa perwakilan dari beberapa instansi bisa hadir dan sama-sama mendengarkan pemaparan dari beberapa narasumber. Ada Ibu Siti ‘Titi’ Fauziah yang merupakan Kepala Biro Humas Setjen MPR RI yang ditemani oleh Bapak Slamet selaku Kepala Bagian PDSI Biro Humas Setjen MPR RI. Tidak lupa pula ketua Blogger Balikpapan, Bapak Bambang Herlandi, seorang Guru SMK yang juga aktiv menulis.

Acara yang dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu kemudian membahas peran netizen (warganet) dalam mensosialisasikan 4 Pilar. Sebenarnya sejak malam sebelumnya saya sudah membaca tentang 4 pilar ini. Namun, setelah dijelaskan baru bisa memahaminya.

Isi 4 Pilar

Seperti sebuah lalu lintas. Negara pula akan berjalan dengan baik ketika di dalamnya ada aturan, batas dan sistem yang dipercaya mampu mengelola dan memelihara nilai-nilai yang universal. Sehingga dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh warganya.

4 Pilar ini menjadi semacam tiang bagi kekokohan Indonesia. Diperlukan pemahaman yang cukup dalam demi bisa mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut isi dari 4 Pilar yang dimaksud :

1. Ideologi Pancasila

Keberagaman penduduk dengan berbagai suku dan Agama membutuhkan pemersatu yang bisa dipercaya, diterima dan dilaksanakan bersama oleh semuanya. Pancasila dengan kelima silanya menunjukkan bahwa nilai-nilai baik akan bisa dilaksanakan meski dalam perbedaan.

Seperti misalnya sila kesatu yang berbunyi, Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap Agama terakomodir di dalam sila ini. Bahwa setiap individu memerlukan Tuhan Yang Satu untuk bisa menjadi warga negara yang baik.

2. UUD (Undang-undang Dasar) Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Sebagai tiang kedua, poin ini juga menjadi bagian penting demi menjaga keutuhan dan persatuan sebagai bangsa. Dengan pasal-pasal yang ada didalamnya membutuhkan pemahaman kita untuk dapat menuangkan nilai-nilai yang ada sebagai dasar menyikapi masalah-masalah bernegara.

Seperti misalnya dalam kalimat, … Bahwa penjajahan harus dihapuskan … Ini sebuah nilai yang kita yakini benar. Bahwa siapapun dan di manapun penjajah sudah seharusnya tertolak.

3. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Indonesia dengan 17.000 pulaunya dengan 6000 diantaranya yang belum diberi nama dan bahkan belum berpenghuni.

Hutan tropis seluas tiga puluh sembilan juta hektar yang menjadi paru-paru dunia. Tambang emas terbesar di dunia, persediaan gas alam tertinggi di dunia dan banyak lagi kelebihannya adalah sesuatu yang sangat penting untuk bisa dijaga bersama. Sehingga persatuanlah yang akan membuat kita bisa bersama-sama memelihara kedaulatannya tanpa saling merasa lebih atau berbeda.

4. Bhinneka Tunggal Ika

Menjadi negara dengan 1340 suku dan memiliki 750 bahasa daerah membuat Indonesia benar-benar cocok dengan semboyan yang pertamakali diungkapkan oleh Mpu Tantular, seorang pujangga dari masa Majapahit pada pemerintahan Raja Hayamwuruk pada tahun 1350 – 1389.

Sesanti atau semboyan itu diubgkapkan dalam tulisannya Kakawin Sutasoma, yang berbunyi “Bhinna Ika Tungga Ika, tan hana dharma mangrwa” yang artinya “Berbeda-beda itu, satu itu, tak ada pengabdian yang mendua”.

Kalimat inilah yang semestinya menjadi bagian dari pemikiran kita yang terbuka. Bahwa perbedaan bukan sebuah hal yang sangat penting untuk dipermasalahkan tetapi lebih menyenangkan untuk diterima sebagai anugerah yang menjadikan kita memiliki nilai yang sama sebagai warga negara.

Konten Positif Untuk Indonesia

Inti dari pertemuan ini adalah sebuah pesan bahwa sebagai warganet diharapkan mengunggah konten baik berupa informasi, motivasi dan lainnya yang memuat nilai-nilai dari keempat pilar yang sudah disosialisasikan.

Hal ini demi meminimalisir tersebarnya berita Hoax, meredam ujaran kebencian dan pertengkaran-pertengkaran tidak penting di sosial media.

Hal tersebut tercantum dalam Deklarasi Netizen MPR RI yang telah dilaksanakan pada tahun 2018 di Gedung MPR RI yang pada saat pertemuan dengan komunitas di Balikpapan itu kembali dibacakan oleh sang moderator, Mira Sahid.

Deklarasi Netizen :

1. Tidak menyebarkan konten hoax dan SARA

2. Bijak menggunakan media sosial sesuai Pancasila

3. Menerapkan 4 Pilar MPR RI dalam dunia digital

4. Bersatu menyatukan Indonesia dengan konten positif

Baik Tapi Tetap Perlu Menarik

Dari obrolan di Aston tersebut dapat disimpulkan bahwa melihat kondisi warganet yang beragam, tingkat kemauan membaca yang tidak terlalu tinggi dibutuhkan konten-konten baik yang tidak hanya memuat nilai-nilai kebangsaan yang mempersatukan. Tapi juga perlu menyajikan konten tersebut denga kreatif sehingga bisa menarik dan menjadi semangat baru bagi warganet yang membaca untuk menyebarkan hal yang sama.

Karenanya konten baik, mesti menarik. Sehingga tidak kalah oleh konten buruk yang disajikan biasa-biasa saja tapi sudah mampu membuat warganet menyukainya.

Dan menjadi tanggungjawab moral bagi influencer, blogger dan setiap individu yang aktiv di sosial media untuk menjadi penyebar utama dari konten positif yang memuat nilai-nilai baik dari empat pilar. Sehingga internet dan sosial media tidam hanya berisi komentar kita tentang hidup orang lain, melainkan lebih banyak menampilkan rasa kebersamaan, kebaikan dan kebenaran.

Selamat menebarkan konten baik dan menarik, teman …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *