Menangkan Saja

Sebuah motor, saat digas pertama kali memang akan menghantarkannya untuk melaju. Namun, ada masa di mana ia mengalami percepatan. Awalnya mungkin adalah gerakan biasa yang tidak terlalu bernilai. Kelanjutannyalah yang membuat motor bisa mengalami kemajuan yang signifikan. Pun kita bisa lihat saat F1 ya. Siapapun bisa jadi sangat cepat selama menyelesaikan lap-lap atau putaran-putaran di sircuit. Tapi, tidak semua yang cepat di beberapa lap bisa mengakhiri perlombaan dengan menjadi juara.

Begitu pula perlombaan dalam hidup kita. Berlomba dalam banyak prestasi atau pencapaian-pencapaian yang tiada habis-habisnya. Dalam ekonomi, status, jabatan atau hal lain yang di dalamnya selalu ada level yang ditentukan oleh mata kemanusiaan kita. Indahnya sesenangnya kita. Bagusnya sesukanya kita. Cepat atau tepatnya pakai ‘penggaris’ yang kita punya. Bagi kita, apa yang kita lihat sekarang, itulah nilai seseorang. Karena apa yang di masa depan menurut kita ya seperti apa yang sudah jadi sketsa hari ini.

Mamakku seringkali bercerita tentang beberapa teman-temannya kala sekolah dulu. Satu diantaranya adalah Om Yudin. Saat sekolah, Om Yudin adalah korban bullying oleh kawan-kawannya. Jika mendengarnya, bagiku yang mengalami masa SMP dan STM dengan aman, cerita-cerita semasa Om Yudin di sekolah itu adalah penderitaan yang tak berkesudahan. Diejek.. dikerjain macam-macam.. bahkan sampai digampar oleh guru. Jika sosok Om Yudin ada di masa aku sekolah, aku mungkin menganggapnya seperti si Agus. Betapa perlakuan teman-teman kami dulu sangat tidak baik terhadapnya. Hanya saja, aku tidak terlalu paham kondisi Agus saat ini. Namun, sama dengan Om Yudin yang menjadi satu orang paling sukses di antara teman-temannya saat sekolah dulu. Ada pula beberapa teman sekolahku yang biasa-biasa saja, ada yang dulunya korban bulliying, bahkan beberapa yang saat sekolah bermasalah, saat bertemu lagi dalam kondisi yang sangat baik. Membandingkan dengan beberapa yang lain. Sangat berprestasi saat sekolah, kemudian biasa saja kala telah dewasa.

Di mana salahnya?? Tidak ada yang salah sebenarnya. Seperti di F1 tadi. Masing-masing memang memutar gas pada masa yang sama. Semua dengan cita-cita juara. Kemudian kerasnya usaha akan meningkatkan hasilnya. Setiap tantangan berupa kelokan dan putaran membuat setiap pembalap menemukan cara masing-masing untuk menyelesaikannya. Ada yang tertinggal kemudian putus asa. Ada yang di depan kemudian kelelahan atau bahkan melakukan kesalahan meski kecil membuat posisinya bisa berubah jadi di belakang. Beberapa mungkin nampak seri dalam sebuah proses. Namun, selalu yang muncul hanya satu juara yang bisa saja tadinya terlihat tidak mungkin. Kenyataannya pula, kemarin bisa juara, tapi tidak di lomba berikutnya.

Lalu menengok kita. Kita diciptakan Allaah dari sesuatu yang hina, kemudian Allaah muliakan dengan kemenangan menembus indung telur. Itupun mesti mengalahkan jutaan kompetitor lainnya. Hiduplah kita dan kemudian dilahirkan sebagai manusia. Di besarkan dengan berbagai macam cara oleh masing-masing orang tua kita. Meski beberapa diantaranya ada kesalahan asuh dan mungkin pula dikuasai hawa nafsu yang menjadikannya manusia jahat atau bahkan biasa2 saja. Bertahun-tahun kemudian ternyata ia berubah kembali mewujudkan kemenangannya sebagai manusia luar biasa. Diakhiri dengan sebuah kematian yang ditangisi. Herannya kehidupan yang baik dan luar biasa saat di masa lalu tidak mampu menjadi penjamin bahwa masa depan akan gemilang pula.

Dahulu mungkin seseorang tak berhijab. Usahlah dicela. Karena demikian banyak wanita yang dulunya tak berhijab, saat inipun telah menutup rapi auratnya. Dahulu bisa saja ada wanita atau pria dengan segudang prestasinya? Namun kemudian hidup susah.

Ada saja kelokan di perlombaan kehidupan kita. Adakah memulainya dengan biasa atau istimewa? Apakah menjalaninya dengan prestasi atau tak lolos uji? Semua ditentukan dengan bagaimana kita mengakhirinya. Ketika kau bisa kalahkan setiap kelokan dengan sadar dan rela. Menetapkan bahwa siapapun yang di depan, hanya yang terbaik yang kita lalukan. Karena fokus pada lawan hanya akan mengalahkan. Sedangkan fokus pada diri akan memenangkan.

Hidup inilah lomba yang sebenarnya.. Menangkan saja..!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *