Lengkap Karena Merasa Cukup

Ungkapan bahwa seseorang telah melengkapi kehidupan orang lain adalah frasa terlebay. (Menurut saya) Karena akhirnya menjadi bumerang bagi orang-orang yang ditinggalkan. Sebab kemudian nampaknya setelah berpisah, sebagian besar dari mereka merasakan kesepian, tidak lengkap.

Walaupun mungkin beban dunia akan lebih ringan bila dihadapi berdua. Namun, bukankah cobaan pun sudah ditetapkan untuk sesuai dengan kemampuan pundak kita?

Selalu meyakini hal tersebut. Sekalipun kadang terbersit pemikiran ini, bila saja…

Nah! Kalau sudah sampai di titik tertentu yang demikian. Memang ada rasa sepet2nya sih. Tapi toh itu hanya setetes “kadang-kadang” yang ada di tengah lautan yang lebih baik.

Seorang manusia sudah lengkap sejak pertama kali ia lahir. Tanpa orang lain, ia tetap manusia dengan semua takdir dan ketetapan yang melekat padanya.

Namun herannya ada saja yang merasa betapa ngenesnya hidup melajang. Bisa karena bermacam desakan sepertinya. Entah keluarga atau ya itu. Perasaan tidak lengkap yang seringkali mendera dan tidak bisa diajak berdamai.

Seorang teman yang masih sendiri seringkali meminta dicarikan pasangan setiap kali berkumpul dengan temannya. “Kalian gak kasihan kah sama saya yang sendirian terus?” Saya yang cuma dengar aja jadi malu sendiri.

Etapi… Itu dimaklumi. Karena setiap kita toh punya cerita dan cara yang tidak seorang pun berhak memberi label sembarangan. Cukup orang julid yang melakukannya. Kamu jangan.

Ada teman lain yang berikhtiar mencari suami via aplikasi yang ramai bertebaran karena dia melihat teman lain yang berhasil menemukan pasangan lewat aplikasi. Langkah yang berani menurut saya. Inipun sangat bisa saya maklumi. Kita berusaha sesuai dengan mau dan mampunya masing-masing.

Beda dengan saya. Sampai seusia sekarang, setelah berulang kali melewati masa merasakan jodoh sudah dekat tapi ternyata bukan. 🤭 Masih terus belajar merasa lengkap dan cukup. Bukan tidak pernah sedih. Malah pernah sangat sedih.

Dulu… Mungkin saya bisa dengan mudah mengungkap suka pada teman laki2. Pemberani saya tu. Hehe. Supaya gak banyak tingkah untuk mencari perhatian di depan orang yang saya suka. Saya tembak langsung. Ditolak semua dong. Tapi rasanya jadi lega. Udah tau harus melakukan apa. Berhenti suka, berhenti kepo.

Tapi seiring semua jejak yang sudah terukir di lembar waktu (Halaah :D) Saya selalu merasa Allah itu baik. Disaat masih sendiri ini, saya dipertemukan dengan orang-orang yang bukan pasangan, bukan suami, bukan saudara tapi dalam banyak masa membuat saya selalu merasa lengkap. Apalagi dengan semua orang-orang yang saya sayang. Orang tua, keluarga, teman, sahabat. Cukup Alhamdulillah.

Cuma itu satu-satunya cara menghindari perasaan tidak lengkap. Walau kadang muncul setitik sepi, senoda galau, segenang iri yang jelas bikin ehem gitu.

Tapi mesti kembali menganggap setiap takdir bagi seorang individu itu sudah paket lengkap. Bahagia dan sedihnya, lapang dan sempitnya, ceria dan air matanya, semangat dan masa-masa lemahnya.

Kalau isi kepala dan perasaan dalam hati fokus pada hal baik, yakin atau Rahmat Allah maka gak akan ada masanya merasa terlalu sepi, terlalu galau, apalagi merasa tidak lengkap.

Karena kamu merasakan hidup bahagia bukan karena ada orang yang menemanimu merasakan. Tapi hidup menjadi bahagia kalau kamu sendiri memang merasakannya sebagai sebuah kebahagiaan.

Rumah Hati, 03102020

#Healing
#Reframing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *