Ketika Setan Ke Masjid (2)

Pemuda itu menyelesaikan bacaan Qur’annya. Lembaran yang kian usang karena setiap hari selalu dibaca dengan sepenuh ketundukan.

Lusuh dan kaburnya garis-garis hijaiyyah di setiap halaman tak membuatnya berhenti atau mengganti untuk menyamankan aktifitas rutinnya itu. Namun semakin lama bertambah pula sebuah rasa di dadanya. Bangga.

Beberapa halaman dengan bercak kecoklatan menjadikan kitab itu bermakna lebih tinggi dari yang lain yang ia punya.

***

Rais kecil berjalan sembari berlompat riang. Di sampingnya, Sang Aba berjalan tenang. Hari ini hari raya. Itu yang seringkali ia dengar dari Uma. Masanya kegembiraan dan keriangan hati bersemi. Jumpa saudara dan handai taulan yang seringkali menyapanya hangat bila bertemu di mana saja.

Seorang lelaki muda mengucap salam pada Abanya ketika berjumpa di simpang jalan. Aba menjawab dan mereka berpelukan. Lama. Tak ketinggalan, Rais pun di sapa dengan ucapan yang sama. Balasan cadelnya menambah aura pertemuan itu semakin menyenangkan.

Mereka melangkah menuju tempat di mana akan ada lebih banyak salam, senyuman dan pelukan.

***

Hari itu tak ada teman seusia Rais yang datang diajak oleh Ayah mereka. Biasanya ada Haikal dan Yusuf. Akhirnya Rais hanya duduk d dekat Aba sembari menunggu waktu Shalat Jum’at.

Ustadz Abu Rayyan baru menyelesaikan khutbah Jum’atnya. Seluruh Jama’ah pun berdiri. Abanya menggamit lengan mungil Rais dan membantunya berdiri, “Mari Rais, kita mulai Shalat.” Rais bergegas berdiri. Ia antusias sekali. Suara Ustadz Abu Rayyan selalu merdu. Aba seringkali merekam suara beliau ketika muraja’ah dan memutarnya di rumah untuk didengarkan oleh Rais. Jiwa mungil Rais selalu tenang ketika mendengarnya.

Semuanya hening. Hanya suara Imam yang terdengar syahdu. Belum usai ritual Maha Indah itu. Jama’ah shalat dikejutkan oleh rentetan bunyi yang meledak-ledak dari arah belakang. Ada teriakan dan jeritan tertahan, “Allaaaah!!”

Sebagian besar jama’ah berlarian. Barisan shaf pun merenggang dan terhambur. Aba menggendong Rais ke dekat dinding. Dari gendongan Aba, Rais melihat sesosok tubuh dengan pakaian tertutup. Imanasinya membayangkan seorang pemadam kebakaran dengan masker oksigen di wajahnya.

Tapi bedanya, kali ini sosok itu membawa senjata yang diarahkan kepada manusia-manusia bertutur lembut, berpelukan hangat yang sering ia temui. Ia sempat melihat Kakek Naeem yang roboh bersimbah darah. Di sebelahnya terjatuh pula Ami Talha yang sesekali memberinya permen. Seorang lainnya yang sempat ia lihat tengah berlari menuju pintu, ketika tiba-tiba limbung dan bertakbir.

Sosok itu masih terus memuntahkan aksi jahatnya. Hingga Rais kecil merasa tubuhnya terlepas dari gendongan Aba. Abanya rebah dengan wajah yang terlihat menahan sakit. Tangan besarnya menarik tubuh Rais mendekat, “Jangan takut Rais, ada Aba.”

Rais memandang wajah pucat Abanya. Dada besar Aba naik turun dengan napas semakin berat. Hingga suara tembakan yang tadi mulai menjauh, kini kembali mendekat. Beberapa bunyi menghasilkan hentakan di tubuh Aba.

Rais kecil menjerit ketika rasa yang amat sakit menyengat panas di kaki mungilnya. Ia memanggil Aba sambil menangis di atas tubuh yang biasanya gagah. Suara lemah Aba masih terdengar, “Sabar Rais, Allah akan menjagamu,” kalimat itu berlanjut dengan kesaksian terakhir Aba dengan tangan besarnya masih menyentuh bahu Rais. Lalu diam. Dan Rais menelungkup, ia terus memeluk tubuh Abanya.

Merah. Dominasi warna yang membuat Rais ngeri. Tubuh para Ami dan lelaki-lelaki baik di sekitarnya membuatnya tenggelam pada tanya paling dalam, apa yang terjadi. Namun, pemandangan di sekelilingnya tak mampu menjawab.

Rais melihat di bawah tubuh Abanya, terselip sebuah Al Qur’an mungil. Bersimbah darah. Ia menarik kitab itu dan memegangnya erat. Sakit di kakinya masih sangat nyeri. Tangisannya terhenti oleh sebuah tepukan lembut. Seorang pemuda menggendongnya dan melarikannya keluar Masjid. Sosok itu sudah pergi. Meninggalkan aroma kematian yang terhidu setiap sanubari. Bila masih manusia. Kekejian yang mesti tercium baunya.

***

Pemuda itu menatap sebuah gambar di lemari. Aba …

Rais tak akan lupa Hari Raya kali itu. Ketika Aba menguatkannya dalam perjalanan syahid, “Allah akan menjagamu ….”

Rais menyentuh gambar Aba. Ia tahu, sejak saat itu Allah selalu menjaga dirinya, hati dan jiwanya dari rasa takut. Tidak hilang yakinnya tentang kebaikan Allah. Itu hanya sebuah kejutan iman. Kebencian akan menghancurkan. Tapi tidak kepada Islam. Ia benar, sempurna dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Balikpapan, 18032019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *