Hafalan Usia Dini Dalam Pertemuan Tanpa Tatap Muka

Usia Dini memang bertumbuh dengan keistimewaannya sendiri. Mereka menyerap sesukanya, sebanyak-banyaknya dan belum terpilah dengan sangat baik. Hal ini tentu karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan segala hal yang telah dipersembahkan oleh lingkungan dalam kehidupannya.

Terkadang sama seperti seseorang bicara “ubi” kemudian saat dilanjutkan ke orang lain sudah jadi “kolak”. Demikian pula anak usia dini saat sekolah dalam kondisi normal. Pesan dari sekolah bisa berkembang seiring keinginan mereka menjadi yang terbaik diantara teman yang lain atau kondisi tertentu yang lain.

Dalam menghafal saat kondisi normal, untuk mengajegkan setiap bunyi huruf dengan tepat saja tetap ada kendalanya. Itu sudah tatap muka, maju satu-satu, diperdengarkan berulang-ulang saat makan dan istirahat. Hasilnya tetap saja ada bunyi dalam surah yang jadi melenceng saat dicoba untuk setoran.

Lalu apa yang terjadi ketika semua aktifitas transfer bunyi hafalan dilakukan dengan daring?

Mengambil kesimpulan dari beberapa kali kegiatan setor hafalan. Hasilnya memang lumayan meski tidak sebaik dengan tatap muka. Kendala daring itu lebih banyak menantang orang tua dan guru untuk lebih aktif bertanya dan saling memberikan informasi dan media pelengkap demi tercapainya hafalan yang tartil.

Semuanya kembali pada kondisi guru dan orang tua masing-masing. Jaringan yang cukup sering putus bersambung dan kurang jelas menjadi tantangan sendiri untuk menemukan cara lain membuat teman kecil bisa mengingat hafalan dengan tepat.

Sebagai guru saya baru coba dua hal.

Pertama : Link Video
Untuk hafalan yang cukup panjang seperti surah-surah saya akan kirimkan video hafalan dengan nada yang diinginkan. Setiap link dikirimkan ke grup kelas asuhan. Harapannya video bisa menjadi panduan buat orang tua yang belum hafal atau belum tepat hafalannya.

Kedua : Pesan Suara
Sedangkan hafalan do’a dan hadits saya kirimkan dalam bentuk pesan suara yang saya rekam langsung dengan vitur di WA atau direkam dahulu di perekam gawai. Jika sudah selesai barulah dikirimkan ke grup kelas.

Harapannya, dengan dikirimkan dua media tersebut orang tua bisa sering memperdengarkan surah, do’a dan haditsnya ke teman kecil di rumah. Karena cara terbaik bisa ingat memang teman kecil harus sering mendengar.

Namun, ujian orang tua di rumah lebih tidak bisa dibayangkan lagi. Mungkin sibuk dengan berbagai hal di kantor dan rumah kadang lupa untuk sering memperdengarkan video dan pesan suara gurunya. Bisa jadi dari pada mesti buka gawai dan grup lagi, akhirnya dengan semangat mengajarkan tanpa panduan dari yang diberikan.

Saya yakin hal ini didasari keinginan kuat orang tua untuk mengajarkan sendiri teman kecil untuk menghafal. Hanya demi keseragaman walaupun tidak semua harus seragam diperlukan kerjasama yang solid antara rumah dan sekolah sehingga hafalan teman kecil hasilnya baik dan terukur perkembangannya.

Tidak ada yang lebih membahagiakan seorang guru dimana ada banyak tantangan tetapi tetap bisa memberikan yang terbaik untuk perkembangan teman kecilnya.

Semoga seluruh orang tua dan guru di mana pun berada tetap semangat dalam kerjasama terindah dalam mendidik tunas bangsa mencapai kemadaniannya.

***

ma·da·ni a 1 berhubungan dengan hak-hak sipil; 2 berhubungan dengan perkotaan; 3 menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban

Tkit Tunas Bangsa Madani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *