Apa Yang “Dinilai” Oleh Guru Dalam Aktivitas Usia Dini?

Melukis Dengan Jari

Pembelajaran daring bagi teman-teman kelas besar mungkin tidak membutuhkan banyak bantuan dari ayah bundanya. Mereka mungkin ada yang sudah bisa mengoperasikan gawainya sendiri dan mengerjakan tugas-tugas dengan sedikit arahan pun sebagian besar sudah bisa terlaksana.

Penilaian untuk teman-teman kelas atas juga sudah masuk kepada benar salahnya jawaban atau hasil dari mengerjakan sesuatu. Kalaupun perlu bantuan kemungkinan besar mereka tidak semuanya merengek minta dibantu. Lagi pula orang tua mungkin juga menganggap buah hatinya sudah bisa sendiri.

Bagaimana dengan Usia Dini?

Sebagai guru saya menemukan sesuatu yang menarik saat pembelajaran daring dengan Usia Dini.

Hal menarik tersebut adalah usaha ayah bunda untuk terlibat saat teman kecil sedang melakukan kegiatannya. Entah itu berupa suara berbisik yang terdengar untuk mengarahkan atau sampai adanya penampakan tangan-tangan besar di atas lembar kerja teman kecil yang dengan jelas akhirnya mengerjakan tugas buah hatinya. Hehe.

Dulu, sebagai dewasa membantu mungkin sesuatu yang saya pandang perlu. Karena saat melihat Usia Dini bekerja, biasanya nampak lambat, seringkali terlihat bingung, ada juga yang berhenti mengerjakan entah karena takut atau apa. Apalagi saat para dewasa sudah mulai melihat hasilnya. Warna belum penuh, kolase bolong-bolong, menggunting belum lurus, menempel tidak ajeg.

Akibatnya saat pekerjaan belum selesai terjadilah intervensi, “Kakak, tempel yang hitam. Nah lanjut atasnya. Iyak bagus.”

Atau versi lain, “Itu warnanya belum selesai nak, langitnya kasih biru, tanahnya warna coklat dong. Kok tanah warnanya merah.”

Tahukah para dewasa sekalian apa sebenarnya yang dinilai oleh Guru TK/PAUD terhadap hasil kerja teman kecilnya?

Hasilnya? Bukan.

Guru di kelas bawah ini mengamati perkembangan. Dan untuk bisa menilai perkembangan, teman kecil harus melalui prosesnya sendiri dengan sangat sedikit bantuan tapi perbanyak motivasi dan mengajak berpikir.

Dari satu kegiatan menggambar saja, guru menilai berbagai hal. Dari motoriknya, perkembangan teman kecil dalam memahami konsep gambar yang detil, tanggung jawab mengerjakan sampai selesai, sabar dalam mengerjakan, bahasanya saat menceritakan gambarnya, dan bisa berkembang ke pengamatan terhadap hal lain.

Hasil pengamatan terhadap lembar kerja hanya akan tepat apabila teman kecil mengerjakan tugasnya sendiri. Dan kedepannya guru bisa menetapkan stimulus berikutnya bagi setiap teman kecil. Hasil yang murni akan memudahkan guru untuk memutuskan kegiatan apa yang bisa direncanakan demi meningkatkan perkembangan mereka selanjutnya.

Karena kalau hasilnya sudah terlihat sempurna, Guru akan menaikkan tingkat kesulitan sebuah kegiatan. Dan bagi teman kecil yang hasil tugasnya lebih banyak diarahkan dan diberi bantuan akan menemukan kesulitan yang lebih besar dan akhirnya akan terus meminta bantuan bahkan menurunkan rasa percaya dirinya.

Sebagai dewasa kita tentu sangat ingin buah hati kita mencapai sesuatu yang tinggi. Tentu tidak akan mungkin semuanya memiliki tingkat kemampuan yang sama. Tapi dengan merelakan mereka berusaha sendiri mengerjakan tugasnya. In syaa Allah kita telah membantu mereka untuk mencapai versi terbaik dari diri mereka masing-masing.

Sekarang tugas para dewasa adalah membuat mereka nyaman dalam perjalanan menempuh proses berkembangnya. Beri semangat dan apresiasi. Supaya mereka tau, bagaimanapun hasilnya mereka tetap dihargai.

***

Contoh kalimat penyemangat :

1. Menenangkan :
Salah tidak apa-apa. Kita masih belajar. Dulu Ayah juga belum bisa. Jadi bisa dan gak salah-salah karena terus berusaha mencoba dan diulang.

2. Apresiasi :
Maasyaa Allah. Kamu hebat nak. Sudah berusaha mengerjakan sendiri.

3. Apresiasi :
Alhamdulillaah bisa sampai selesai. Keren kamu!

4. Penyemangat:
Kalau susah (Ayah atau Bunda) Coba lagi (Teman kecil)
Kalau susah (Ayah atau Bunda) Coba lagi (Teman kecil)
Kalau susah (Ayah atau Bunda) Coba lagi (Teman kecil)
Lama-lama (Ayah Bunda)
Kita bisaa! (Teman kecil)

5. Penyemangat :
Bagus! Itu tinggal sedikit lagi, nak. Semangat!

Balikpapan, 06092020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *