Akad

wedding-dress-366543__480

Malaikat di hadapanku itu makin menunduk. Nampak hijabnya berubah gelap di satu bagian. Ada butiran air yang jatuh setelah sejenak mengalir di pipinya. Ah, aku tak menginginkan ini. Setahun menjaga hatinya dari sakit apapun yang disebabkan oleh perilakuku. Melindunginya dari semua sedih yang bermula dari ucapanku. Ternyata … Saat itu datang juga. Takdir memang seringkali Tak terduga.

***

Bermula dari panggilan Ayah padaku disatu malam. Saat itu semua keluarga berkumpul di ruang tamu. Paman-pamanku bahkan Ada yang datang dari luar kota. Tidak terlalu jauh memang. Tapi, sebelumnya mereka hampir tidak pernah datang ke sini.

“Putri Hebel anak dari Raja Van Hebel berniat menjadikanmu suaminya. Raja datang ke rumah nenek dan mengutarakan maksudnya.”

Masalah ini pernah Ayahku bicarakan sebelumnya. Keluarga Kakek dan Nenek telah turun temurun menjadi sahabat dekat kerajaan. Raja Van Hebel seringkali membantu keluarga kami saat dalam kesulitan. “Ini bukan balas budi, Astra. Ini tanggung jawab persaudaraan.”

Aku tidak mengerti tanggung jawab seperti itu. Tapi, aku melihat tangis Ibu setelah aku menolak tawaran tersebut pertama kali. Mendapati wajah tegang Ayah dan perubahan mimik keduanya adalah tanggung jawabku. Apalagi tujuan hidupku selain membahagiakan mereka.

***

“Maafkan Abang, Alisa,” Hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan. Mencintainya teramat dalam. Tapi, aku keturunan keluarga, lelaki satu-satunya yang menjadi harapan saat ini. Meski harus pupus semua mimpi kami. Ia hanya diam dalam isaknya yang tertahan. Menyakitkan. Walau baru setahun, ia adalah semua rindu yang menyemangati dalam semua hariku. Belum terbayang bagaimana aku hidup tanpa perempuan ini.

***

Semalam ia masih hadir di mimpiku. Dan semua yang terpendam sejak semula, tertumpah juga. Mengenang Alisa serta semua tempat dan waktu kami bersama. Sampai Ibu masuk ke kamar dan menemukan wajahku basah, “Apa kau tidak bahagia, Astra?” tanyanya khawatir. Tangan kasarnya menghapus air yang keluar dari netraku.

“Astra bahagia, kalau ibu bahagia. Ini sebentar saja. Izinkan Astra mengenang perempuan yang pernah membahagiakan hidup Astra sebelum sampai di sini,” Ibu mengangguk dan membawa kepalaku dalam dekapnya.

***

Aku sudah berlatih untuk ini. Menatap yakin kepada ibu sebelum detik-detik ijab qabul.

Di sampingku telah duduk seorang bidadari yang sejak pertemuan pertama telah merebut perhatianku. Sebenar-benar bidadari. Lebih segalanya dari Alisa. Semakin yakin, aku bisa bahagia.

“Saudara Muhammad Astra bin Abdurrahman saya nikahkan kamu dengan putriku Ana Khairunnisa Hebel bin Omar Van Hebel dengan maskawin dua puluh tiga gram perhiasan dibayar tunai ….” Raja Van Hebel menghentakkan tanganku.

“Saya terima nikahnya Alisa Az Zahra binti Fathurrahman dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”

Perasaan tidak ada yang salah dalam ucapanku. Tapi, di depan sana aku melihat Ibu yang tergolek pingsan. Raja Van Hebel yang menatapku tajam. Dan perempuan bergaun putih di sampingku yang tiba-tiba menangis dan menjerit kehilangan paras bidadarinya. Ada apa?

Sedang di sana aku melihatnya. Berdiri bersandar di pintu Masjid. Alisa Az Zahra, perempuan yang baru kusadari bahwa namanyalah yang kusebut dalam ijab qabul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *